Matapena.news, Bolsel — Di balik rimbunnya hutan Batu Manangis, Molibagu, tersimpan harapan bagi kelangsungan hidup burung Maleo, satwa endemik Sulawesi yang kini kian terdesak keberadaannya. Harapan itu kembali menguat ketika PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) bersama Pemuda Relawan Molibagu (PEREDAM) menapakkan kaki di kawasan konservasi tersebut, Jumat, 23 Januari 2026.
Kunjungan lapangan ini menjadi bagian dari komitmen PT JRBM dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar wilayah operasional perusahaan. Dipimpin General Manager External Relation and Security PT JRBM, Andreas Saragih, bersama Manager Corporate Social Responsibility (CSR) Rudi Rumengan, rombongan menyusuri kawasan hutan Batumanagis untuk meninjau langsung lokasi hatchery atau tempat penetasan telur Maleo.
Di tempat sederhana itu, Basri, penjaga Maleo setempat, menjalankan peran penting yang kerap luput dari sorotan. Dengan penuh ketelatenan, ia mengumpulkan telur-telur Maleo dari alam, merawatnya, hingga menetaskan sebelum akhirnya melepasliarkan anak burung kembali ke habitatnya.
“Sekarang saya bisa mengumpulkan lebih dari 30 butir telur. Proses penetasan biasanya dua sampai tiga bulan,” tutur Basri, sembari menunjukkan area penetasan yang dijaganya dari ancaman predator.
Namun, di balik dedikasinya, Basri menyimpan harapan akan dukungan yang lebih besar. Menurutnya, keberlanjutan konservasi Maleo membutuhkan perhatian dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk perusahaan.
“Kami sangat berharap ada dorongan dan perhatian dari perusahaan agar populasi Maleo bisa terus meningkat,” ungkapnya.
Kondisi kawasan konservasi Batu manangis pun meninggalkan kesan tersendiri bagi manajemen PT JRBM. Andreas Saragih menilai lokasi tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan, meski masih membutuhkan sentuhan perbaikan, terutama dari sisi infrastruktur pendukung.
“Lokasinya cukup baik dan memang perlu perhatian serius. Ini akan kami tindak lanjuti melalui pembahasan bersama manajemen,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Rudi Rumengan. Baginya, kembali terlibat langsung dalam kegiatan pelepasliaran anakan Maleo dan melihat kondisi hatchery menjadi pengalaman yang bermakna.
“Pengembangan kawasan ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, komunitas PEREDAM, dan masyarakat,” kata Rudi.
Tak hanya soal konservasi satwa, kunjungan ini juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi lokal. Rombongan PT JRBM menyempatkan diri mengunjungi lokasi pengelolaan gula aren atau gula semut (pinasu), hasil olahan petani setempat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam dan turut menjaga habitat Maleo. Di sana, mereka mencicipi langsung manisnya gula pinasu—hasil kearifan lokal yang menyatu dengan upaya pelestarian lingkungan.
Pendiri sekaligus Pembina PEREDAM, Gaguk Pranagia Prasetyo, menyampaikan apresiasi atas kehadiran langsung PT JRBM di lapangan.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT JRBM yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap konservasi burung Maleo,” ujarnya.
Ia berharap, hasil survei ini tidak berhenti sebatas kunjungan, tetapi berlanjut pada dukungan nyata dan berkelanjutan, termasuk pembangunan fasilitas konservasi yang lebih memadai.
“Meski jaraknya cukup jauh, perusahaan tetap hadir langsung. Kami berharap PT JRBM terus mendukung perlindungan Maleo secara berkesinambungan,” pungkasnya.***






